Category Archives: Renungan

Renungan: Bertanggung jawab dengan karunia rohani

Karunia rohani adalah pemberian Allah kepada setiap orang percaya yang dikehendakiNya dengan jenis karunia yang berbeda-beda. Dan jangan lupa bahwa ini karunia artinya Tuhan berhak untuk memberi kepada siapa Dia mau dan juga berhak mengambil. Bahkan seringkali menurut pemandangan kita orang tersebut tidak layak menerimanya namun Tuhan memberikan kepada dia. Ini perlu dipahami secara benar supaya nanti tidak terluka kepada Tuhan.

Renungan: Kolose 1:1-18

Gereja yang kita pahami disini lebih luas dari denominasi, gereja disini adalah tubuh Kristus dan semua kita adalah anggota tubuh kristus. Makna ini sangat dalam contoh jika hidup kita ini adalah potongan puzzle maka pada waktu kita tidak hadir maka puzzle itu tidak akan pernah sempurna. Apapun pelayanan kita kita adalah satu tubuh sehingga yang khotbah tidak lebih penting dari Worship Leader dan seterusnya. Malah jika ada yang lemah dalam tubuh kita harus kita rawat secara ekstra, jika ada hal-hal yang luka dalam diri kita justru harus diperhatikan serius. Sehingga didalam tubuh Kristus bukan saling menyalahkan atau saling menghakimi karena kita sadar bahwa kita satu kesatuan.

Renungan: Membawa hati yang hancur Lukas 18: 9-14

Memberi hati yang hancur tidak gampang, sebenarnya lebih gampang membawa hati yang damai sejahtera, sukacita dan sebagainya. Ini mengakibatkan banyak orang yang berdusta kepada Tuhan tentang keadaannya, mengatkan bahwa dia baik damai padahal hatinya tidak demikian, atau juga dia sedang marah kepada Tuhan namun tidak berani jujur. Atau sebaliknya ada orang yang jujur tetapi dengan motivasi yang salah.

Dari ayat Firman Tuhan ini kita diajari agar jujur dengan motivasi yang juga benar. Tuhan tidak anti dosa, Tuhan tidak anti orang yang hancur hati, Tuhan juga tidak menghindari orang kotor, hina, najis dll. Namun Tuhan inginkan hati yang hancur. Dari bacaan diatas kita bisa melihat bahwa ada perbedaan antara orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi terkenal baik, rajin bahkan ketaatannya kepada Hukum Taurat teruji.

Firman ini mengisahkan orang Farisi yang sedang berdoa demikian: “Ya Allah aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku”.

Dari doa ini kita bisa menyimpulkan bahwa orang ini sangat saleh. Jangan-jangan orang seperti dia ini sangat langka di jaman modern ini, namun mengapa doa ini bermasalah? Karena Tuhan tahu hati dan motivasinya. Tuhan katakan “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Lain hanya dengan pemungut cukai. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Tuhan merespon lain terhadap orang ini dengan mengatakan : Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Tuhan rindukan kita mengatakan keadaan kita dengan jujur, dan dengan penyesalan atas dosa kita bukan ditutupi ataupun dikemas dengan kemasan yang “kudus”. Tuhan tahu hati kita dan dia memahami semuanya. Dalam 1 Samuel 16:7 tertulis: Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

Mempersembahkan hati yang hancur artinya:
 Mengandung penyesalan atas setiap dosa, dan mengakui dosa adalah dosa sesuai dengan kacamata Tuhan
 Ada penyerahan total artinya siap bayar harga mungkin sakit malu dan sebagainya
 Ada kemauan (kehendak) untuk diubah oleh Tuhan dan siap masuk dalam proses dan waktunya Tuhan
 Tidak ada tuntutan

oleh Pdt. Jonedi Ginting, M.A

Renungan: Ya Tuhan, nasibku kok sama?

             Ya Tuhan, apakah nasibku sama juga dengan orang lain ? Ya Tuhan, mengapa ini terjadi dalam diriku? Apakah pertanyaan ini akan menjadi pemikiran kita ketika kita membaca Pengkotbah 9 :1-2 “Sesungguhnya, semua ini telah kuperhatikan, semua ini telah kuperiksa, yakni bahwa orang-orang yang benar dan orang-orang yang berhikmat dan perbuatan-perbuatan mereka, baik kasih maupun kebencian, ada di tangan Allah; manusia tidak mengetahui apapun yang dihadapinya. Segala sesuatu sama bagi sekalian; nasib orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik, orang yang baik maupun orang yang jahat, orang yang tahir maupun orang yang najis, orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak mempersembahkan korban”.

             Sebagaimana orang yang baik, begitu pula orang yang berdosa; sebagaimana orang yang bersumpah, begitu pula orang yang takut untuk bersumpah. Sebenarnya ayat ini mengatakan kepada kita bahwa semua manusia akan mati, baik pintar atau bodoh, mengenal Tuhan ataupun tidak, berhikmat atau tidak, boros atau tidak dan seterusnya. Tetapi, tahukah saudara bahwa ayat ini membawa kita kepada satu realita bahwa walaupun kita semua akan mati tetapi ada yang tidak akan mati yaitu perubahan yang kita lakukan dalam hidup kita, atau daftar riwayat hidup apa yang sudah kita lakukan dalam hidup ini.

             Thomas Alfa Edison sudah meninggal, Einstein sudah tidak ada dan banyak lagi tokoh-tokoh lain yang karyaNya sampai hari ini masih kita nikmati. Pernahkah kita berpikir bahwa benar nasib semua orang sama yaitu akan mendapat warisan 2 X 1 m “(dikubur)”? Namun apakah kita bisa mengubah generasi yang masih hidup nantinya atau mengubah anak cucu kita nantinya? Pasal 9 ini diakhiri pengkhotbah dengan satu cerita bahwa hikmat lebih baik dari pada keperkasaan (ayat 16).
            
             Digambarkan dalam cerita ini, orang yang tidak diperhitungkan oleh dunia ini justru  jauh lebih berpengaruh pada masa depan daripada seorang raja agung. Perbedaannya terletak pada hikmat. Hikmatlah yang akan kekal sampai kepada anak cucu kita, hikmatlah yang mempengaruhi generasi kita dan generasi yang akan datang, hikmatlah yang akan mengubah satu bangsa. Apakah kita sudah berhikmat, atau apa yang sudah kita lakukan dengan hikmat? Kalau kita melayani Tuhan, itu baik; kalau kita berpuasa, itu baik; kalau kita menolong orang itu pun baik; namun jika kita lakukan tanpa hikmat maka hasilnya tidak akan baik atau tidak akan maksimal.

             Pada waktu  nanti malaikat Tuhan menjemput kita, hikmat apa yang kita tinggalkan bagi generasi ini? Perubahan apakah yang sudah kita buat dalam hidup orang lain? Perubahan apakah yang sudah kita buat dalam gereja? Perubahan apakah yang sudah kita buat dalam lingkungan sekitar, ataupun untuk bangsa ini dengan hikmat?

oleh Pdt. Jonedi Ginting

Renungan: Waktunya Siapa?

           Beberapa kali ketika saya melayat-upacara penguburan, saya mendengar ayat penghiburan dari Pengkhotbah 3:1, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya”. Saya sangat diberkati, dan saya melihat bahwa ayat ini berbicara lebih dari konteks penghiburan dalam suatu upacara penguburan. Saya mulai berpikir, “Sekarang sebenarnya Tuhan memberikan waktu apa kepada saya, karena jelas bahwa jika segala sesuatu ada waktunya, maka ada juga nanti waktu yang berlalu dan tidak pernah kembali”.

           Kepekaan sesorang untuk mengerti masa apa yang Tuhan kehendaki dalam kehidupannya menjadi sesuatu yang sangat penting karena:
1. Jika kita mati-matian mengerjakan sesuatu yang ternyata itu bukan waktunya Tuhan,  maka kita menghabiskan waktu dan energi yang sangat banyak hanya untuk sebuah kegiatan yang “sia-sia”.
2. Masa yang diberikan Tuhan mungkin bisa saja sepertinya berulang namun kualitasnya pasti berbeda.
3. Kita akan semakin banyak membuang keefektifan diri kita untuk meraih suatu impian atau Visi.
4.Kalau segala sesuatu kita sadari ada masanya maka jika kita tidak peka terhadap masanya Tuhan maka kita sama saja dengan orang yang menunda atau bahkan melewatkan berkat luarbiasa yang sebenarnya Tuhan siapkan bagi kita.

           Bagaimana kita dapat melatih kepekaan terhadap masa Tuhan? Langkah pertama, bertanya kepada Tuhan hal apa di dalam diri kita yang selama ini kita masih pegang teguh seperti pendirian, kepandaian, keahlian kita yang ternyata menghalangi kita untuk mengerti masa Tuhan. Kedua, membereskan luka-luka, penghakiman, kemarahan, kepahitan yang masih dipendam dalam diri kita. Ketiga bertanya kepada Tuhan, masa apakah yang Ia siapkan bagi kita.

           Bagi kebanyakan orang, yang paling sulit adalah poin pertama dan kedua. Dalam pengalaman pelayanan kami, seseorang dapat memiliki prinsip yang hebat dalam hidupnya atau memiliki banyak pengetahuan di dalam hidupnya, namun datangnya dari luka di masa lalu seperti keinginan balas dendam kepahitan dan lain-lain. Orang itu mungkin akan semakin berhasil dengan prinsip dan pengetahuannya, namun seringkali jika prinsip itu didasari luka, maka ia akan sulit menikmati damai sejahtera Tuhan semasa hidupnya.

           Fakta mengatakan bahwa betapa banyak orang yang memiliki “segalanya dalam hidupnya” namun kehilangan damai sejahtera? Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?-Lukas 9:25. Jelas disini yang menjadi ukurannya adalah masa Tuhan. Mungkin secara dunia orang melihat kita tidak memperoleh apa-apa tetapi jika kita melakukannya pada masa Tuhan, maka hasilnya akan sangat luar biasa.

           Apakah saudara tahu masa apa yang Tuhan kerjakan dalam diri saudara? Mungkin masanya untuk berubah, mungkin masanya untuk bertumbuh, mungkin masanya menemukan visi, mungkin masanya rekonsiliasi atau untuk hal-hal yang lain. Bertanyalah kepada Tuhan dengan membuang terlebih dahulu penghambat yang membuat kita tidak bisa “connect“dengan Dia.

Ditulis oleh
Pdt Jonedi Ginting

Renungan: Jangan Membatasi Diri!

Begitu banyak orang tidak melakukan apa-apa karena dia merasa punya kelemahan dalam dirinya sehingga “membatasi dirinya” untuk menjadi seorang yang luar biasa. Pembatasan diri bisa berupa: akibat pendidikan, sosial, pengalaman yang sangat minim dll, dan kemudian dia mulai mengatakan pada dirinya bahwa dia tidak bisa apa-apa karena keterbatasan itu, sehingga akhirnya dia akan jadi seperti apa yang dia katakan. Tahukah saudara ini adalah musuh terbesar kesuksesan? Firman Tuhan mengatakan cukuplah………….justru didalam kelemahanmulah Kuasa-Ku menjadi sempurna ( 2 Korintus 12:9). Firman ini mengajarkan kepada kita bahwa untuk menjadi sesuatu yang membawa perubahan didalam hidup kita jangan membatasi diri, orang yang membatasi diri sebenarnya dia sedang mengatakan bahwa dia memang tidak mau meraih sukses yang Tuhan sudah siapkan , dia sedang menunda bahkan menolak berkat Tuhan yang luar biasa.

Berhala dalam hati

Banyak di antara kita memiliki berhala-berhala, walaupun kita tidak melakukan kegiatan yang berhubungan dengan okultisme. Inilah yang disebut berhala di dalam hati.